6 Upacara Pernikahan Adat Bali Sarat Budaya

Oleh:

Nasyabila Hamdani

Pernikahan Adat Bali
https://br.pinterest.com/pin/23362491810019792/

Share :

Bali dikenal dengan kekayaan budaya dan tradisi yang kental, salah satu manifestasinya melalui berbagai upacara yang dilakukan oleh masyarakat Bali.

Halalinkuy.com – Pernikahan adat Bali didasarkan pada filosofi Tri Hita Karana, yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Upacara-upacara pernikahan adat Bali dirancang untuk mencapai keseimbangan ini dengan melibatkan elemen-elemen spiritual, sosial, dan alamiah. Setiap upacara memiliki peran dan makna tertentu dalam mencapai harmoni ini.

Setiap ritual dalam pernikahan adat Bali memiliki simbolisme dan makna mendalam yang melekat.

Upacara Pernikahan Adat Bali:

Upacara Pernikahan Adat Bali
Contoh Upacara Pernikahan Adat Bali (Sumber: https://br.pinterest.com/pin/402720391687703270/)

Pernikahan adat Bali biasanya disebut dengan “Nganten” atau “Ngekeb”. Nganten adalah kata dalam bahasa Bali yang mengacu pada ritual pernikahan adat Bali. Ngekeb mengacu pada prosesi pemasangan penutup kepala kain putih (udeng) oleh pengantin pria sebagai simbol bahwa ia telah menikah.

1. Mapadik

Upacara ini bertujuan untuk menentukan tanggal yang dianggap baik dan menguntungkan untuk melangsungkan pernikahan berdasarkan perhitungan astrologi atau kalender Balinese. Mapadik melibatkan peramal atau pemangku adat yang melakukan perhitungan berdasarkan faktor-faktor astrologi, termasuk posisi bintang, tanggal kelahiran mempelai, dan elemen-elemen kalender Balinese.

Setelah tanggal pernikahan ditentukan melalui upacara mapadik, kedua keluarga mempelai akan menghormati keputusan tersebut dan melanjutkan persiapan pernikahan sesuai tanggal yang ditetapkan. Upacara mapadik merupakan bagian penting dari tradisi pernikahan adat Bali dan diyakini membawa keberuntungan dan keberkahan bagi pasangan yang akan menikah.

2. Panggih

Panggih adalah tahap penting dalam proses pernikahan di mana kedua belah pihak bertemu untuk saling mengenal, membahas adat istiadat, merencanakan acara, dan membahas segala hal terkait pernikahan.

Dalam panggih, keluarga mempelai pria dan keluarga mempelai wanita berdiskusi tentang berbagai aspek pernikahan, seperti tanggal pernikahan, tempat pernikahan, dekorasi, menu makanan, busana pengantin, hiburan, dan sebagainya.

Selain itu, panggih juga dapat menjadi kesempatan bagi kedua keluarga untuk membangun hubungan yang baik, menyampaikan harapan dan keinginan, serta membahas segala persyaratan dan tradisi yang harus dipatuhi dalam pernikahan adat Bali.

3. Mewidhi Widana

Upacara ini bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan tubuh, pikiran, dan jiwa calon pengantin agar siap menghadapi pernikahan dengan keadaan yang suci dan bersih.

Mewidhi Widana biasanya dilakukan beberapa hari sebelum pernikahan dan melibatkan kedua mempelai. Prosesi dimulai dengan pembersihan tubuh menggunakan air suci (tirtha) yang diberikan oleh pendeta atau pemangku adat. Air suci ini diyakini memiliki kekuatan untuk membersihkan energi negatif dan membawa keberkahan.

Setelah pembersihan tubuh, calon mempelai kemudian melakukan meditasi, berdoa, dan merenung untuk membersihkan pikiran dan jiwa mereka. Mereka juga dapat melakukan puasa atau menjalankan puasa sesuai dengan petunjuk adat istiadat Bali.

Selama Mewidhi Widana, para pemangku adat atau pendeta akan membimbing calon mempelai dalam proses penyucian dan pemurnian diri ini. Mereka akan memberikan instruksi mengenai tata cara dan doa-doa yang harus diikuti serta memberikan nasihat dan nasehat untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan mental dalam menjalani pernikahan.

4. Mappadik Tiga Bulan

Upacara pertemuan kedua mempelai tiga bulan sebelum pernikahan untuk membahas persiapan lebih lanjut.

5. Ngurapin:

Dalam upacara ngurapin, keluarga mempelai mempersiapkan berbagai persembahan sesuai dengan adat istiadat Bali, seperti canang (persembahan bunga), sesajen (persembahan makanan), dupa (kemenyan), dan sesajen lainnya. Upacara ini dilakukan di pura (tempat ibadah Hindu) atau di tempat yang dianggap suci.

Selama upacara ngurapin, pendeta atau pemangku adat memimpin prosesi dan membacakan doa-doa untuk memohon restu kepada leluhur dan Tuhan. Keluarga mempelai ikut berpartisipasi dalam prosesi, baik dalam membawa persembahan, berdoa, atau melaksanakan instruksi yang diberikan oleh pendeta.

6. Mecaru:

Ritual mecaru dilakukan dengan penghormatan dan upacara tertentu dihadiri oleh kedua keluarga mempelai. Selama ritual, terdapat pembacaan doa-doa dan ungkapan rasa terima kasih dari pihak mempelai pria kepada pihak keluarga mempelai wanita. Hal ini mencerminkan kesepakatan antara kedua belah pihak untuk membina hubungan keluarga yang erat dan saling mendukung setelah pernikahan.

Pernikahan Adat Bali

Pernikahan Adat Bali (Sumber https://br.pinterest.com/)

Pernikahan adat Bali juga melibatkan penghormatan terhadap leluhur dan dewa-dewa yang dipercaya memiliki peran penting dalam kehidupan manusia.

Pernikahan adat Bali juga melibatkan banyak ritual untuk memperkuat hubungan keluarga dan ikatan sosial antara kedua belah pihak keluarga. Setiap ritual melibatkan peran penting dari keluarga besar, tetangga, dan komunitas sebagai bagian dari prosesi pernikahan. Ini membantu memperkuat ikatan keluarga dan menjaga harmoni dalam masyarakat.

Ritual-ritual seperti Mewinten, Metatah, dan Ngekeb adalah contoh di mana leluhur dihormati melalui prosesi dan doa-doa khusus. Ritual-ritual ini juga mencerminkan rasa syukur dan permohonan berkah kepada dewa-dewa.

Ini hanya beberapa contoh ritual dalam pernikahan adat Bali, dan setiap seremoni bisa memiliki judul atau nama yang berbeda-beda tergantung pada adat dan tradisi keluarga yang bersangkutan.

Artikel Terbaru

Advertorial

Artikel Serupa