3 Langkah Akulturasi Budaya untuk Pasangan Lintas Negara

Oleh:

Nasyabila Hamdani

https://images.app.goo.gl/nu9kom4LiwLoNtWPA

Share :

Ketika dua hati bersatu dalam pernikahan, perbedaan budaya bukan menjadi hambatan, melainkan menjadi kekuatan.

Halalinkuy.com – Pernikahan beda negara sering kali menjadi masalah, karena perbedaan budaya yang tentu saja berbeda, kemudian bertemu dan saling memengaruhi.

Proses ini dikenal sebagai akulturasi, yaitu elemen-elemen budaya dari kedua belah pihak saling berpadu dan menciptakan kombinasi yang unik.

Komunikasi menjadi masalah nomor satu bagi pasangan beda negara. Menikah juga bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi menggabungkan dua keluarga.

Nah, bagaimana perbedaan budaya antar-Negara bisa menjadi satu kesatuan tanpa hambatan? Mari kita simak!

Hal yang Mendasari Akulturasi Budaya

Sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius, wajib bagi para calon mempelai untuk memahami situasi dan kondisi yang diperlukan dalam mengatasi hambatan-hambatan dalam pernikahan.

Hal yang paling mendasar adalah komunikasi, pastikan calon mempelai memahami bahasa masing-masing, sebagai alternatif contoh sama-sama menguasai bahasa Inggris untuk berkomunikasi.

Walaupun latar belakang pasangan berbeda, misal calon istri berasal dari Indonesia dan calon suami berasal dari China. Namun, keduanya menguasai bahasa Inggris.

Ketika masalah utama sudah selesai. Kedua calon mempelai bisa langsung berkomunikasi kepada orang tua dan kerabat untuk melangkah ke jenjang lebih lanjut, yaitu menikah.

Hal yang harus diketahui dalam proses akulturasi budaya adalah pertemuan budaya, simbolisme dalam ritual pernikahan, dan kuliner serta gaya hidup pasangan.

1. Pertemuan Budaya

Pernikahan Venda Rachmad dan Swantje

Proses pertemuan budaya akan terjadi dengan mengidentifikasi elemen budaya yang saling berpadu, seperti tradisi pernikahan, bahasa, makanan, pakaian, seni, dan musik. Interaksi budaya ini membentuk identitas baru bagi pasangan dan anak-anak mereka di kemudian hari.

Seperti pria asal Jawa yang menikahi wanita asal Jerman pada tahun 2013 lalu. Tentu saja banyak hal yang bertolak belakang karena perbedaan budaya.

Dalam konteks pernikahan beda negara, proses akulturasi dapat memperluas wawasan pasangan dan keluarga tentang dunia, memperkaya pemahaman mereka tentang budaya-budaya yang berbeda, dan membuka peluang untuk belajar dan tumbuh secara pribadi.

Pasangan dapat mengembangkan keterampilan adaptasi, fleksibilitas, dan toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan budaya. Mereka juga dapat mengalami rasa keterhubungan yang lebih dalam, memperluas jaringan sosial, dan membangun hubungan yang lebih erat dengan keluarga dan teman-teman dari budaya pasangan.

2. Simbolisme dalam Ritual Pernikahan:

Pernikahan muslim India dan Minang

Akulturasi budaya sering terjadi dalam ritual pernikahan, momen ini adalah momen paling krusial bagi pasangan. Tiap negara pasti memiliki adat dan kebiasaan khususnya dalam merayakan pernikahan.

Dalam prosesnya pasangan akan menggabungkan elemen-elemen tradisional dari negara asal mereka dalam upacara pernikahan dan menciptakan simbolisme yang memadukan dua budaya.

Contohnya, dalam pernikahan muslim India dan Minang salah satu mempelai harus mengikuti rangkaian acara dengan menggunakan busana adat, persembahan upacara, musik, dan tarian khas dengan khidmat.

Akulturasi dalam pernikahan beda negara juga dapat memberikan kesempatan untuk menggali dan merayakan aspek-aspek budaya yang baru dan menarik. Pasangan dapat menjelajahi makanan, seni, musik, dan tradisi dari budaya masing-masing, menciptakan pengalaman yang unik dan memperkaya kehidupan mereka secara keseluruhan.

3. Kuliner dan Gaya Hidup:

Perbedaan kuliner dan gaya hidup Neo Japan dan Istri

Pasangan pernikahan beda negara sering berbagi dan memasukkan hidangan khas dari negara masing-masing ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini tidak hanya memperkaya pengalaman kuliner, tetapi juga mempromosikan tentang kebiasaan makan, perbedaan bumbu, cara memasak dan gaya hidup yang berbeda pula.

Seperti yang bisa dilihat dalam contoh video di atas. Walaupun banyak perbedaan dalam gaya hidup dan kuliner, tetapi tak melunturkan rasa cinta antara suami yang berasal dari Indonesia dan istri yang berasal dari Jepang.

Proses akulturasi budaya dalam pernikahan beda negara dapat menimbulkan tantangan psikologis dan emosional, dampaknya juga mencakup pertumbuhan pribadi, hubungan yang lebih kuat, dan pemahaman yang lebih luas tentang budaya-budaya yang berbeda.

Perlu kesabaran, pemahaman, dan komitmen untuk saling mendukung, pasangan dan keluarga dapat menjalani proses akulturasi ini dengan baik dan menciptakan harmoni dalam perbedaan budaya.

Artikel Terbaru

Advertorial

Artikel Serupa